Skip to main content

Pendengar yang Ingin Didengarkan


Ini perihal percaya yang kadang berubah jadi sirna,


Berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi orang lain adalah salah satu hal favoritku.
Mendengar mengajariku banyak hal.
Aku bisa menambah pengetahuanku.
Aku bisa mendapatkan kawan baru.
Aku jadi tahu pola pikir orang lain.
Aku jadi tahu kepribadian orang lain.
Bahkan, aku jadi tahu sudut pandang orang lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehku.

Mendengar membuka wawasan dan meningkatkan rasa empatiku.
Aku bisa ikut gelisah ketika lawan bicaraku sedang gundah.
Aku bisa ikut melayang ketika lawan bicaraku sedang senang.
Aku bisa ikut getir ketika lawan bicaraku sedang khawatir.
Bahkan, aku bisa ikut merasa sebal pada orang lain yang sudah membuat lawan bicaraku kesal.

Ketika orang lain memintaku untuk mendengar, sebisa mungkin akan aku dengarkan dengan benar.
Kucermati ucapannya. Meski sesekali harus ku interupsi karena kalimatnya tak ku pahami.
Karena bagiku, menjadi seorang pendengar adalah sebuah kebanggaan.

Saat orang lain memutuskan untuk bercerita padaku, aku bangga karena ia memilihku.
Ia memilih aku, dari sekian banyak manusia yang ia temui dalam hidupnya.
Hei! Aku jadi salah satu orang kepercayaannya!
Sungguh hal yang luar biasa. Bahkan, aku tidak bisa membeli kepercayaan di rak swalayan.
Diantara banyak kerabatnya, ia menjatuhkan kepercayaannya padaku.
Iya, dia memilihku. Aku menjadi salah satu orang beruntung yang bisa mendengarkan ia bercerita.
Yang mungkin, cerita itu hanya ia ceritakan padaku.
Bayangkan saja, diantara anggota keluarga, kawan-kawannya, dan ratusan orang dalam hidupnya, diriku hinggap dalam pikirannya. Luar biasa.

Menjadi pendengar membuatku ikut berpikir akan apa yang lawan bicaraku ucapkan.
Diluar dugaanku, banyak orang yang mempercayakanku untuk menjadi pendengar ceritanya.
Pendengarku kagum kala aku masih mengingat kisah yang pernah ia ceritakan.
Terima kasih sudah mempercayaiku. Terima kasih sudah bertukar pikiran denganku.
Datang lagi, ya.
Jangan merasa bosan berkeluh kesah denganku.
Jiwa, raga, dan indra yang kumiliki selalu siap jika kamu membutuhkanku.
Hubungi aku, jangan segan dan jangan ragu. Ceritamu tidak pernah menggangguku.
Kusediakan waktuku untukmu, karena kamu mempercayakanku.

Tapi, aku juga ingin merasa didengarkan.
Aku juga manusia yang tak luput dari beban pikiran.
Aku, punya deretan nama yang kupercaya.
Hei, satu atau dua kali akan aku maafkan jikalau kamu tidak mendengarkanku.
Namun maaf, sayang.  Tidak akan kuberikan kepercayaanku untuk ketiga kalinya.
Bodoh rasanya apabila aku tetap bercerita padamu yang bahkan tidak mendengarkanku dengan seksama.
Sudahlah, aku pendam sendiri saja.
Karena entah dipendam atau dikatakan, sungguh tidak ada bedanya. Sama-sama tetap menjadi beban untukku.
Rasanya bebanku tak berkurang meski telah bersua denganmu. Justru bebanku rasanya bertambah, karena kamu tidak mendengarkanku.
Maafmu selalu aku terima, namun kepercayaanku telah sirna.

Tolong, dengarkan aku dengan baik. Aku hanya ingin didengarkan.
Saran bukanlah hal penting bagiku, karena yang aku minta hanya satu: dengarkan aku.
Kumohon mengerti akan posisiku. Aku sungguh dengan segenap hati mempercayaimu.
Kuberi sebuah kesempatan untuk lebih mengenal aku. Jangan buat aku merasa kecewa, kumohon padamu. Entah sudah berapa kata mohon yang aku tuliskan, karena aku amat berharap padamu.

Aku tahu, setiap manusia memiliki beban dan kesibukan.
Kalau begitu, katakan. Maka aku tidak perlu berkisah jika kamu tidak mendengarkan.
Katakan, maka aku akan sabar menunggumu untuk mendengarkanku.

Berat rasanya untuk mengungkapkan, namun ini ironi yang aku rasakan.
Percayalah, aku juga ingin didengarkan.

Pikirkan lagi kata-kataku ini, ya?
Agar aku tidak salah dalam memilih pendengar.
Kumohon, jangan biarkan aku memiliki stigma buruk tentangmu.
Bantu aku untuk menjaga citra baikmu dihadapanku.

Hei, jangan buat aku menyesal karena telah memilihmu sebagai buku harianku.

Dan jangan biarkan aku tenggelam dalam ceritaku yang telah lama kupendam.

Aku percaya padamu.

Kumohon,

Dengarkan aku.

Comments

  1. Huhuhu gak nyangka ini tulisannya dipa.. bagus banget dip, artinya juga ngenak banget... Lupyu dipaa 💜💜

    ReplyDelete
  2. Tulisannya keren kak, keep it up! Bisa ngerasain juga apa yang kakak rasain. Bisa jadi pendengar yang baik memang suatu anugerah gak sih? Setiap orang berkisah sama kita, kita pasti dapet aja satu/dua pelajaran.�� Tapi sedih juga kalo pas kita perlu 'menumpahkan' sesuatu, gak semua orang siap menjadi wadahnya. Suka deh sama tulisan kakak.<3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo! makasih banget udah mampir and leave a comment. Maaf telat banget balesnya, have a good day <3

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dikta & Hukum: Sebuah Kisah yang Menguras Emosi Pembaca

Hai! Dhifa disini. Kali ini aku mau bikin review buku, nih! Tapi tulisannya masih amatir banget, gapapa ya? Aku gemes banget pengin review buku ini, sekaligus memperkenalkan kepada khalayak umum mengenai sebuah buku yang luar biasa menguras perasaan aku. Tapi, kalau kamu mengharapkan aku mengulas buku yang berbau ilmu dan akademik, mending mundur dulu, deh. Karena buku ini adalah novel, yang mana kisahnya 100% fiksi. Diciptakan murni untuk menghibur dan memenuhi hasrat pembaca mengenai kisah romantis remaja. Judul bukunya "Dikta & Hukum", karya Kak Dhia'an Farah alias Kak Ara. Kalian bisa menemukan Kak Ara di Twitter dengan username @kejeffreyan. Yaudah, tanpa basa-basi lagi ayo kita bahas pelan-pelan novel "Dikta & Hukum". Kisah Dhifa Bertemu Novel "Dikta & Hukum" Bentar-bentar, sebelum bahas novel yang luar biasa ini, aku mau ceritain alasan kenapa aku beli novel ini. Semuanya berawal sekitar bulan Mei tahun 2021. Siang itu, ada nama ...

Kumpulan Tulisan Dhifa Lainnya

[Kabar]  Pers Akademika, 2020.  Antropologi Unud: Peduli Budaya Negeri di Tengah Pandemi. Dapat diakses di sini . [Kabar] Pers Akademika, 2021.  Harga Cabai Melejit, Pedagang Menjerit. Dapat diakses  di sini . [Sastra] Pers Akademika, 2021.  Nino, Jazz, dan Chicago. Dapat diakses  di sini . [Majalah] Antropologi Unud, 2021.  The People's Edisi 1. Dapat diakses  di sini .  With a honour , pada Majalah The People's Edisi 1 ini saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi. Anda dapat menemukan tulisan saya pada halaman 4.  [Buku] Pers Akademika, 2021.  Jejak Asa Bertaut Bencana. Tidak dapat diakses secara online karena buku ini dicetak.  With a honour , pada buku Jejak Asa Bertaut Bencana ini saya dipercaya sebagai kontributor dengan judul tulisan "Manusia, Alam Semesta, dan Nilai Kehidupan". Anda dapat menemukan tulisan saya pada halaman 168.