Hai! Dhifa disini. Kali ini aku mau bikin review buku, nih! Tapi tulisannya masih amatir banget, gapapa ya? Aku gemes banget pengin review buku ini, sekaligus memperkenalkan kepada khalayak umum mengenai sebuah buku yang luar biasa menguras perasaan aku. Tapi, kalau kamu mengharapkan aku mengulas buku yang berbau ilmu dan akademik, mending mundur dulu, deh. Karena buku ini adalah novel, yang mana kisahnya 100% fiksi. Diciptakan murni untuk menghibur dan memenuhi hasrat pembaca mengenai kisah romantis remaja. Judul bukunya "Dikta & Hukum", karya Kak Dhia'an Farah alias Kak Ara. Kalian bisa menemukan Kak Ara di Twitter dengan username @kejeffreyan. Yaudah, tanpa basa-basi lagi ayo kita bahas pelan-pelan novel "Dikta & Hukum".
Kisah Dhifa Bertemu Novel "Dikta & Hukum"
Bentar-bentar, sebelum bahas novel yang luar biasa ini, aku mau ceritain alasan kenapa aku beli novel ini. Semuanya berawal sekitar bulan Mei tahun 2021. Siang itu, ada nama "Dikta" yang nangkring di trending topik Twitter. Aku gak terlalu peduli awalnya, karena kupikir itu perihal Pradikta Wicaksono atau Dikta yang merupakan musisi muda Indonesia. Tapi, aku yang juga seorang NCTzen (sebutan untuk penggemar NCT) melihat di beranda Twitter bahwa ada kaitan antara "Dikta" yang ada di trending topik dengan salah satu member NCT, Doyoung namanya. Usut punya usut, ada sebuah Alternate Universe (AU) di Twitter karya @kejeffreyan yang tokohnya diberi nama "Dikta" yang divisualisasikan oleh Doyoung member NCT.
Setelah aku dalami lagi, ternyata fans berat Dikta di AU membawa-bawa nama Dikta di akun resmi Instagram Doyoung. NCTzen yang merasa hal tersebut sudah kelewat batas lantas memperingatkan NCTzen lain untuk tidak meramaikan akun Instagram Doyoung dengan kata-kata yang berkaitan dengan Dikta di AU. Buat yang belum paham, Alternate Universe atau AU ialah sebutan lain untuk fanfic atau fan fiction. Singkatnya, AU adalah kisah fiksi buatan penggemar yang menggunakan sosok idola sebagai tokoh-tokoh dalam cerita. Lanjut lagi, NCTzen yang geram kemudian memperingatkan NCTzen lain untuk tidak membawa-bawa tokoh Dikta ke dalam akun Instagram Doyoung karena menganggap hal tersebut sudah berlebihan dan dapat membuat Doyoung tidak nyaman. NCTzen berusaha untuk saling mengingatkan bahwa ada batasan untuk tokoh yang fiksi (dimuat dalam cerita) dengan tokoh yang asli (artisnya).
Dari huru-hara inilah aku menemukan "Dikta & Hukum". Ketika aku cari AU nya, akun Kak Ara @Kejeffreyan tiba-tiba diprivasi, buntut dari viralnya Dikta di akun Instagram Doyoung. Meskipun menjadi viral, Kak Ara tentu terkena efek sampingnya juga yaitu menerima hujatan. Langkah yang Kak Ara lakukan untuk memprivasi akunnya merupakan langkah yang tepat, sebuah tindakan cerdas untuk pencegahan atas kata-kata yang tidak seharusnya ia terima. Karena menurutku, viralnya Dikta itu diluar kendali Kak Ara, tindakan pembaca yang berlebihan itu juga diluar kendali Kak Ara. Tentu Kak Ara berharap ceritanya diterima dengan baik oleh pembaca, dan huru-hara ini diluar kendali Kak Ara meskipun Kak Ara merupakan penulis ceritanya. Tapi meskipun Kak Ara sudah memprivasi akun Twitter miliknya, tentu ia akan tetap bisa membaca hujatan-hujatan yang ditujukan untuknya di Twitter. Buntutnya, Kak Ara meminta maaf untuk segala hal yang ditimbulkan atas viralnya tokoh Dikta, kamu dapat melihat permohonan maafnya di sini. Karena akun Kak Ara diprivasi saat itu, musnah sudah harapanku untuk menyelami lebih dalam AU Dikta & Hukum.
Beberapa hari kemudian, aku mendapati akun Kak Ara melintas di beranda Twitterku. Tanpa basa-basi, aku membuka profilnya dan mencari AU Dikta & Hukum. Namun semua sudah terlambat, AU yang viral tersebut sudah dihapus untuk beberapa bagian, hingga yang tersisa hanyalah beberapa bagian cerita saja. Tidak kehabisan akal, aku mencari cara lain agar bisa bertemu dengan Dikta & Hukum. Gotcha! ternyata Dikta & Hukum sudah terbit dalam bentuk buku. Dari sinilah aku tertantang untuk membeli novel ini. Pernah di suatu siang, karena saking inginnya bertemu dengan buku ini, aku pergi sendiri ke Gramedia di salah satu pusat perbelanjaan. Aku pergi sendirian, berharap bisa membawa Dikta pulang kala itu. Setelah berkeliling, aku belum juga menemukan buku incaranku ini. Agak sedikit putus asa, aku mulai bertanya pada pegawai yang berjaga. Aku terlambat, Dikta & Hukum sudah sold out rupanya. Kakak pegawai Gramedia menawarkan aku untuk pre order, namun kujawab akan kupikirkan terlebih dahulu. Mulai dari sini, aku semakin tertantang untuk bisa membawa Dikta pulang. Tak kehabisan akal, aku mencarinya lewat aplikasi belanja online.
Aku mendapatkan titik terang, banyak sekali penjual yang menjajakan Dikta & Hukum di aplikasi belanja online. Sayangnya, lagi-lagi jawaban yang aku dapat adalah aku harus melakukan pre order. Heran, "se keren apa sih novel ini sampai-sampai aku juga harus pre order untuk pembelian online?" pikirku waktu itu. Sebelum memutuskan untuk membeli, aku mengalami pergolakan batin, beli atau tidak, ya? Hingga akhirnya aku bercerita pada salah satu sahabatku, Icha. Icha yang juga mengetahui viralnya Dikta langsung menyarankanku untuk membelinya secara online, meskipun aku harus menunggu lebih lama karena harus pre order. Dan ya, akhirnya aku membeli novel Dikta & Hukum seharga Rp 71.250 di Togamas Diponegoro Surabaya. Harga ini sudah paling murah untuk buku asli. Setelah beberapa hari menunggu, Dikta sampai di rumah dengan aman dan selamat.
Deskripsi Buku "Dikta & Hukum"
Buku Dikta & Hukum yang aku punya merupakan buku cetakan keempat, luar biasa, bukan? sudah cetakan yang keempat saja. Terbukti bahwa buku ini luar biasa, padahal AU nya belum lama debutnya (Agustus 2020). Buku yang aku beli juga sudah diberi label "National Bestseller Book" pada bagian covernya. Halaman paling pertama, terdapat tanda tangan Kak Ara disana, ditemani sebuah bookmark kecil yang desainnya sama seperti cover bukunya. Buku ini tebalnya 385 halaman serta memuat 23 bab. Terdapat "Special Chapter" setelah bagian epilog yang hanya dapat dibaca apabila memindai kode QR terlebih dahulu. Untuk genrenya, buku ini bergenre fiksi, dengan harga yang tercantum Rp 95.000. Yap! betul sekali! aku membeli buku ini dengan harga diskon, maka dari itu buku yang aku beli harganya lebih murah. Hehehehehe.
Penerbit buku ini adalah Asoka Aksara & Loveable, penerbit yang cukup populer untuk novel-novel remaja. Untuk isinya, terdapat bubble chat dan bubble tweet yang ditambahkan dalam cerita untuk memvisualisasikan tokoh ketika sedang berkomunikasi menggunakan media sosial. Dengan adanya bubble chat dan bubble tweet ini, pembaca tidak mudah bosan apabila disuguhi tulisan saja di seluruh isi novel. Untuk foto-fotonya, aku cantumkan di bawah ini. Ada beberapa bagian yang harus aku blur untuk menghindari spoiler yang terlalu jauh. Heheheheh.
![]() |
| Bagian cover depan, warna ungu pastel dan pink pastel sangat mendominasi, Ditambah ilustrasi laki-laki dan perempuan yang diumpamakan sebagi tokoh utama dalam cerita. |
![]() |
| Bookmark yang masih senada dengan cover depan buku serta tanda tangan Kak Ara. |
![]() |
| Bubble chat yang terdapat dalam cerita |
![]() |
| Tebal buku |
![]() |
| Bagian cover belakang, warna ungu pastel dan pink pastel masih mendominasi. Ditambah teks sinopsis yang memenuhi halaman. |
![]() |
| Sedikit mengintip Bab 1 |
![]() |
Bubble tweet |
Sinopsis "Dikta & Hukum"
UUDN
Undang-undang Dikta Nadhira
Pasal satu
Dasar hukum perjodohan yang mengikat kedua belah pihak (Nadhira dan Dikta)
Pasal dua
Memuat tentang bagaimana keduanya tanpa sadar saling menghindar agar tak jatuh hati.
Pasal tiga
Menjelaskan kedua belah pihak terhukum dengan jatuh hati yang tak bisa mereka hindari lagi.
Pasal empat
Ketentuan umum keduanya sebagai kekasih yang saling mengasihi.
Namun, sekuat apa pun sebuah pasal mengikat suatu hukum, tetap akan ada satu hukum tertinggi, Hukum Tuhan, satu-satunya yang berkuasa penuh menentukan akhir dari cerita yang Dikta dan Nadhira yakini akan abadi.
Sedikit Berkenalan Dengan Tokoh
Pada bagian ini, aku nggak akan jelasin tentang latar belakang tiap tokoh dalam cerita, ya. Kalau mau tahu, baca saja bukunya. Yang aku perkenalkan disini adalah tokoh idola yang menjadi visualisasi.
Satu, Pradikta atau biasa dipanggil Dikta.
Dalam AU yang dibuat Kak Ara di Twitter, Dikta divisualisasikan oleh Kim Doyoung atau biasa disebut Doyoung. Doyoung adalah salah satu anggota boy group Korea Selatan yaitu NCT. Saat ini, Doyoung sedang sibuk berkarir pada unit NCT 127 dan NCT U. Doyoung juga beberapa kali menyanyikan lagu secara solo, serta menyanyi untuk mengisi soundtrack drama Korea. Selain menjadi penyanyi, Doyoung juga beberapa kali menampilkan bakatnya dalam dunia akting, bahkan menjadi pemeran utama! Benar-benar sosok yang berbakat. Berikut adalah fotonya:
Dalam AU yang dibuat Kak Ara di Twitter, Jeffrey divisualisasikan oleh Jeong Jaehyun atau biasa disebut Jaehyun. Uniknya, nama "Jeffrey" juga merupakan salah satu nama panggilan Jaehyun saat ia masih tinggal di Amerika Serikat. Jaehyun adalah salah satu anggota boy group Korea Selatan yaitu NCT. Saat ini, Jaehyun sedang sibuk berkarir pada unit NCT 127 dan NCT U, sama seperti Doyoung. Jaehyun juga beberapa kali menyanyikan lagu secara solo, juga menyanyi untuk mengisi soundtrack drama Korea. (Lagi-lagi) sama seperti Doyoung, selain menjadi penyanyi, Jaehyun juga menampilkan bakatnya dalam dunia akting dan menjadi pemeran utama! Jaehyun memiliki paras yang tampan dan memiliki lesung pipi yang indah. Berikut adalah fotonya:
Dalam AU yang dibuat Kak Ara di Twitter, Johnny divisualisasikan oleh Johnny Suh atau biasa disebut Johnny. Yup, tidak ada perubahan nama dari nama asli artis kepada nama yang digunakan dalam tokoh di AU. Johnny adalah salah satu anggota boy group Korea Selatan yaitu NCT. Saat ini, Johnny sedang sibuk berkarir pada unit NCT 127 dan NCT U. Meskipun member grup Korea, Johnny bukanlah warga negara Korea Selatan, lho! Ia lahir dan besar di Chicago, Illinois dan menjadikannya sebagai warga negara Amerika Serikat. Johnny memiliki badan yang tinggi tegap dan memiliki keahlian khusus yaitu nge DJ! Oiya, Johnny ini member NCT favoritku. Heheheheh. Berikut adalah fotonya:
Dalam AU yang dibuat Kak Ara di Twitter, Atuy divisualisasikan oleh Nakamoto Yuta atau biasa disebut Yuta. Jika nama Yuta dibaca dari abjad belakang, namanya akan berubah menjadi Atuy. Yuta adalah salah satu anggota boy group Korea Selatan yaitu NCT. Saat ini, Yuta sedang sibuk berkarir pada unit NCT 127 dan NCT U. Yuta adalah satu-satunya member NCT 127 yang berasal dari Jepang. Yuta ini orangnya kocak banget! Cocok untuk memvisualisasikan tokoh Atuy si akang Sunda yang hobinya ngelawak. Berikut adalah fotonya:
Dalam AU yang dibuat Kak Ara di Twitter, Theo divisualisasikan oleh Lee Teyong atau biasa disebut Taeyong. Taeyong adalah salah satu anggota boy group Korea Selatan yaitu NCT, ia sekaligus menjadi leader untuk NCT. Saat ini, Taeyong sedang sibuk berkarir pada unit NCT 127, NCT U, dan grup Super M. Taeyong juga beberapa kali menyanyikan lagu secara solo. Selain menjadi penyanyi, Taeyong juga beberapa kali menampilkan bakatnya dalam memproduksi musik! Benar-benar sosok yang berdedikasi untuk dunia tarik suara. Berikut adalah fotonya:
Keenam, Jeno
Dalam AU yang dibuat Kak Ara di Twitter, Jeno divisualisasikan oleh Lee Jeno atau biasa disebut Jeno. Saat ini, Jeno sedang sibuk berkarir pada unit NCT Dream dan NCT U. Sama seperti Johnny, nama Jeno tidak ada perubahan baik dalam nama asli dan nama tokoh di AU. Jeno beberapa kali menampilkan bakatnya dalam dancing! Pribadi yang hangat ini memiliki mata yang ikut tersenyum apabila ia sedang tersenyum, sehingga ia sering disebut sebagai "the smiling eyes". Gemas! Berikut adalah fotonya:
Umm, maaf karena terlalu asik membahas manusia-manusia luar biasa ini. Untuk tokoh lainnya, silahkan baca sendiri buku Dikta & Hukum, ya. Jika berbicara tentang hal yang aku suka, rasanya aku akan dengan senang hati mengoceh seharian. Maaf, mari lanjut ke bagian selanjutnya~
Penilaianku tentang "Dikta & Hukum"
Dengan antusias yang luar biasa ketika novel ini berhasil aku beli, aku sangat berharap novel ini membawakan kisah yang sesuai ekspektasiku. Aku sangat menyukai alur ceritanya. Cerita yang disajikan ialah kisah kasih remaja yang manis, penuh lelucon dan dibumbui sedikit konflik. Sosok Dikta yang luar biasa berhasil membuatku berharap bahwa suatu hari nanti aku akan bisa bertemu laki-laki seperti dia di dunia nyata, namun dalam keadaan yang sehat lahir dan batin. Rasa sakit yang Dikta rasakan dalam hidupnya seolah-olah bisa ikut aku rasakan. Secara tidak sadar, aku sudah menganggap Dikta sebagai sahabatku sendiri. Sehingga ketika aku "kehilangan" Dikta, aku menangis karena rasa sakitnya sungguh nyata. Kak Ara sebagai penulis berhasil membuat aku membawa emosi dan perasaanku ketika membaca setiap babnya.
Bahasa yang digunakan dalam novel merupakan bahasa non formal, sehingga pembaca akan merasa rileks ketika membaca novel ini karena tidak menggunakan bahasa yang "berat". Suasana yang diceritakan dalam novel juga merupakan suasana kehidupan sehari-hari seperti kuliah, sekolah, berkencan, yang mana hal-hal tersebut dapat dibayangkan dengan mudah oleh pembaca. Novel ini cocok untuk kamu yang sangat mengidolakan sosok laki-laki yang penyayang, humoris, cerdas dan rela berkorban. Kamu akan menyayangi sosok Dikta, meskipun ia adalah tokoh fiksi.
Kelebihan dari novel ini adalah jalan ceritanya yang asik dan tidak membosankan. Sulit untuk membangun semangat membaca pada bagian awal cerita, namun dalam novel ini, kamu akan dibuat bersemangat dalam membaca setiap babnya karena berisi lelucon dan konflik-konflik remaja yang mengundang tawa. Kamu akan dibuat takjub oleh Dikta yang penuh kejutan dalam pikiran, perkataan dan tindakannya. Buku ini benar-benar luar biasa, aku sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa menakjubkannya Dikta dan dunia yang ia punya.
Kekurangan dari novel ini ialah ada beberapa kalimat berbahasa Sunda yang diucapkan oleh Atuy, namun tidak ada translate yang menjabarkan artinya. Salah satunya pada halaman 223 ketika Atuy mengatakan "Nanaonan jiga bapak-bapak nu keur ngaronda". Sebagai seseorang yang bukan keturunan Sunda dan tidak dibesarkan di lingkungan yang berbahasa Sunda, jujur aku tidak mengerti apa maksud kalimat tersebut meskipun hanya sebuah kalimat singkat. Akibatnya, aku mengartikan kalimat tersebut dengan asal dan penuh duga.
Nilai dari aku: 4.3/5
Secara keseluruhan, aku sungguh puas dengan jalan ceritanya meskipun sempat membuatku merasa sakit hati karena Dikta harus mengubur mimpinya karena jalan takdir yang tidak merestuinya.
Kesimpulan
Aku sangat sangat sangat menyukai buku ini. Tidak ada rasa penyesalan ketika membeli dan menamatkan ceritanya. Untuk NCTzen, novel ini ialah wajib untuk dibaca karena diangkat dari salah satu AU sukses yang divisualisasikan oleh anggota NCT.
Terlepas dari masalah yang dihadapi Kak Ara pada masa viralnya Dikta & Hukum, aku tetap menganggap bahwa hasil karya Kak Ara ini memang pantas untuk mendapatkan apresiasi. Bukan berarti aku mendukung tindakan-tindakan yang salah (plagiarisme), namun Kak Ara sendiri pun sudah memohon maaf dan melakukan klarifikasi, bagiku itu sudah cukup untuk menetralkan suasana. Lagipula, selama aku mengulas novel ini, aku tidak pernah sedikitpun meromantisasi kutipan-kutipan yang dijadikan "highlight" dalam permasalahan dan aku tidak membenarkan tindakan plagiarisme. Kak Ara dengan J.Pocaluce (@stargyuzing_) sudah berkomunikasi dengan baik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Untuk Kak Ara (@kejeffreyan) dan Kak J.Pocaluce (@stargyuzing_), kalian benar-benar penulis yang luar biasa!
Terima kasih! akhirnya, sampai pula di penghujung tulisan. Terima kasih sudah membaca tulisan yang berantakan ini. Kalau ada salah penyebutan, mohon tinggalkan komentar sehingga aku bisa memperbaikinya. Mohon maaf apabila ada salah kata dalam menyajikan ulasan (yang terlalu panjang) ini. Nantikan tulisanku selanjutnya, ya!
Salam hangat,
Dhifa.
Sumber foto novel: dokumentasi pribadi
Sumber foto member NCT: Pinterest














Comments
Post a Comment