Ini perihal percaya yang kadang berubah jadi sirna,
Berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi
orang lain adalah salah satu hal favoritku.
Mendengar mengajariku banyak hal.
Aku bisa menambah pengetahuanku.
Aku bisa mendapatkan kawan baru.
Aku jadi tahu pola pikir orang lain.
Aku jadi tahu kepribadian orang lain.
Bahkan, aku jadi tahu sudut pandang orang lain yang
mungkin tidak pernah terpikirkan olehku.
Mendengar membuka wawasan dan meningkatkan rasa
empatiku.
Aku bisa ikut gelisah ketika lawan bicaraku sedang
gundah.
Aku bisa ikut melayang ketika lawan bicaraku sedang
senang.
Aku bisa ikut getir ketika lawan bicaraku sedang
khawatir.
Bahkan, aku bisa ikut merasa sebal pada orang lain
yang sudah membuat lawan bicaraku kesal.
Ketika orang lain memintaku untuk mendengar, sebisa
mungkin akan aku dengarkan dengan benar.
Kucermati ucapannya. Meski sesekali harus ku interupsi karena kalimatnya tak
ku pahami.
Karena bagiku, menjadi seorang pendengar adalah
sebuah kebanggaan.
Saat orang lain memutuskan untuk bercerita padaku,
aku bangga karena ia memilihku.
Ia memilih aku, dari sekian banyak manusia yang ia
temui dalam hidupnya.
Hei! Aku jadi salah satu orang kepercayaannya!
Sungguh hal yang luar biasa. Bahkan, aku tidak bisa
membeli kepercayaan di rak swalayan.
Diantara banyak kerabatnya, ia menjatuhkan
kepercayaannya padaku.
Iya, dia memilihku. Aku menjadi salah satu orang
beruntung yang bisa mendengarkan ia bercerita.
Yang mungkin, cerita itu hanya ia ceritakan padaku.
Bayangkan saja, diantara anggota keluarga, kawan-kawannya, dan ratusan orang dalam hidupnya, diriku hinggap dalam pikirannya. Luar biasa.
Menjadi pendengar membuatku ikut berpikir akan apa
yang lawan bicaraku ucapkan.
Diluar dugaanku, banyak orang yang mempercayakanku
untuk menjadi pendengar ceritanya.
Pendengarku kagum kala aku masih mengingat kisah
yang pernah ia ceritakan.
Terima kasih sudah mempercayaiku. Terima kasih sudah bertukar pikiran denganku.
Datang lagi, ya.
Jangan merasa bosan berkeluh kesah denganku.
Jiwa, raga, dan indra yang kumiliki selalu siap
jika kamu membutuhkanku.
Hubungi aku, jangan segan dan jangan ragu. Ceritamu tidak pernah menggangguku.
Kusediakan waktuku untukmu, karena kamu
mempercayakanku.
Tapi, aku juga ingin merasa didengarkan.
Aku juga manusia yang tak luput dari beban pikiran.
Aku, punya deretan nama yang kupercaya.
Hei, satu atau dua kali akan aku maafkan jikalau
kamu tidak mendengarkanku.
Namun maaf, sayang.
Tidak akan kuberikan kepercayaanku untuk ketiga kalinya.
Bodoh rasanya apabila aku tetap bercerita padamu
yang bahkan tidak mendengarkanku dengan seksama.
Sudahlah, aku pendam sendiri saja.
Karena entah dipendam atau dikatakan, sungguh tidak
ada bedanya. Sama-sama tetap menjadi beban untukku.
Rasanya bebanku tak berkurang meski telah bersua denganmu.
Justru bebanku rasanya bertambah, karena kamu tidak mendengarkanku.
Maafmu selalu aku terima, namun kepercayaanku telah
sirna.
Tolong, dengarkan aku dengan baik. Aku hanya ingin didengarkan.
Saran bukanlah hal penting bagiku, karena yang aku
minta hanya satu: dengarkan aku.
Kumohon mengerti akan posisiku. Aku sungguh dengan segenap hati mempercayaimu.
Kuberi sebuah kesempatan untuk lebih mengenal aku. Jangan buat aku merasa kecewa, kumohon padamu. Entah sudah berapa kata mohon yang aku tuliskan,
karena aku amat berharap padamu.
Aku tahu, setiap manusia memiliki beban dan
kesibukan.
Kalau begitu, katakan. Maka aku tidak perlu berkisah jika kamu tidak
mendengarkan.
Katakan, maka aku akan sabar menunggumu untuk
mendengarkanku.
Berat rasanya untuk mengungkapkan, namun ini ironi
yang aku rasakan.
Percayalah, aku juga ingin didengarkan.
Pikirkan lagi kata-kataku ini, ya?
Agar aku tidak salah dalam memilih pendengar.
Kumohon, jangan biarkan aku memiliki stigma buruk
tentangmu.
Bantu aku untuk menjaga citra baikmu dihadapanku.
Hei, jangan buat aku menyesal karena telah memilihmu
sebagai buku harianku.
Dan jangan biarkan aku tenggelam dalam ceritaku
yang telah lama kupendam.
Aku percaya padamu.
Kumohon,
Dengarkan aku.
Huhuhu gak nyangka ini tulisannya dipa.. bagus banget dip, artinya juga ngenak banget... Lupyu dipaa 💜💜
ReplyDeletehihi thank you, cak! love you more <3
DeleteTulisannya keren kak, keep it up! Bisa ngerasain juga apa yang kakak rasain. Bisa jadi pendengar yang baik memang suatu anugerah gak sih? Setiap orang berkisah sama kita, kita pasti dapet aja satu/dua pelajaran.�� Tapi sedih juga kalo pas kita perlu 'menumpahkan' sesuatu, gak semua orang siap menjadi wadahnya. Suka deh sama tulisan kakak.<3
ReplyDeleteHaloo! makasih banget udah mampir and leave a comment. Maaf telat banget balesnya, have a good day <3
Delete