Skip to main content

Memaafkan dan Melupakan

Hari raya Idul Fitri tahun ini terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya, terasa lebih sepi dan untuk pertama kalinya aku merasakan kehampaan di hari yang seharusnya menjadi hari berkumpulnya para sahabat dan keluarga. Semoga ini menjadi Idul Fitri terakhirku yang dipenuhi rasa hampa, semoga tahun depan aku bisa merasakan rasanya berkumpul dengan orang-orang terkasih saat hari raya tiba. Entah dimanapun aku berada nantinya, semoga aku tidak merasakan kesepian. 

Hari ini aku sudah menerima dan mengirim pesan permohonan maaf pada beberapa sahabat dan keluarga. Semoga pintu maaf benar-benar terbuka untuk segala salah dan khilaf yang pernah aku lakukan, semoga luka yang pernah aku torehkan untuk orang lain akan segera sembuh. Aku memaafkan semua kesalahan meskipun masih mengingat beberapa luka yang masih tersisa dalam ingatanku. Mengingat bukan berarti tidak memaafkan, bukan? Lagipula untuk menyimpan rasa dendam pun akan menguras energiku. Aku memaafkan dan mencoba melupakan hal-hal buruk yang pernah orang lain lakukan padaku, biar waktu yang akan membantu aku belajar untuk benar-benar memaafkan. 

Mungkin ada beberapa kesalahanku yang pernah aku lakukan pada orang lain dan aku luput untuk meminta maaf. Melalui tulisan ini aku memohon maaf dengan sungguh-sungguh dan tulus dari hati yang terdalam. Aku tahu terkadang perkataan dan perbuatanku berbuat yang tidak semestinya dan melukai orang lain. Maaf jika aku tidak dapat mengucapkan kata maaf secara langsung dan harus memohon maaf lewat tulisan sederhana ini. 

Tak luput aku memohon maaf untuk diriku sendiri. Maaf ya, dhif. Maaf kalau aku pernah terlalu memaksa dan membuatmu ada dalam situasi yang sulit. Semoga luka-luka dan tangis yang pernah ada segera tergantikan dengan bahagia yang tiada tara. 

Comments

Popular posts from this blog

Dikta & Hukum: Sebuah Kisah yang Menguras Emosi Pembaca

Hai! Dhifa disini. Kali ini aku mau bikin review buku, nih! Tapi tulisannya masih amatir banget, gapapa ya? Aku gemes banget pengin review buku ini, sekaligus memperkenalkan kepada khalayak umum mengenai sebuah buku yang luar biasa menguras perasaan aku. Tapi, kalau kamu mengharapkan aku mengulas buku yang berbau ilmu dan akademik, mending mundur dulu, deh. Karena buku ini adalah novel, yang mana kisahnya 100% fiksi. Diciptakan murni untuk menghibur dan memenuhi hasrat pembaca mengenai kisah romantis remaja. Judul bukunya "Dikta & Hukum", karya Kak Dhia'an Farah alias Kak Ara. Kalian bisa menemukan Kak Ara di Twitter dengan username @kejeffreyan. Yaudah, tanpa basa-basi lagi ayo kita bahas pelan-pelan novel "Dikta & Hukum". Kisah Dhifa Bertemu Novel "Dikta & Hukum" Bentar-bentar, sebelum bahas novel yang luar biasa ini, aku mau ceritain alasan kenapa aku beli novel ini. Semuanya berawal sekitar bulan Mei tahun 2021. Siang itu, ada nama ...

Kumpulan Tulisan Dhifa Lainnya

[Kabar]  Pers Akademika, 2020.  Antropologi Unud: Peduli Budaya Negeri di Tengah Pandemi. Dapat diakses di sini . [Kabar] Pers Akademika, 2021.  Harga Cabai Melejit, Pedagang Menjerit. Dapat diakses  di sini . [Sastra] Pers Akademika, 2021.  Nino, Jazz, dan Chicago. Dapat diakses  di sini . [Majalah] Antropologi Unud, 2021.  The People's Edisi 1. Dapat diakses  di sini .  With a honour , pada Majalah The People's Edisi 1 ini saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi. Anda dapat menemukan tulisan saya pada halaman 4.  [Buku] Pers Akademika, 2021.  Jejak Asa Bertaut Bencana. Tidak dapat diakses secara online karena buku ini dicetak.  With a honour , pada buku Jejak Asa Bertaut Bencana ini saya dipercaya sebagai kontributor dengan judul tulisan "Manusia, Alam Semesta, dan Nilai Kehidupan". Anda dapat menemukan tulisan saya pada halaman 168.

Pendengar yang Ingin Didengarkan

Ini perihal percaya yang kadang berubah jadi sirna, Berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi orang lain adalah salah satu hal favoritku. Mendengar mengajariku banyak hal. Aku bisa menambah pengetahuanku. Aku bisa mendapatkan kawan baru. Aku jadi tahu pola pikir orang lain. Aku jadi tahu kepribadian orang lain. Bahkan, aku jadi tahu sudut pandang orang lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehku. Mendengar membuka wawasan dan meningkatkan rasa empatiku. Aku bisa ikut gelisah ketika lawan bicaraku sedang gundah. Aku bisa ikut melayang ketika lawan bicaraku sedang senang. Aku bisa ikut getir ketika lawan bicaraku sedang khawatir. Bahkan, aku bisa ikut merasa sebal pada orang lain yang sudah membuat lawan bicaraku kesal. Ketika orang lain memintaku untuk mendengar, sebisa mungkin akan aku dengarkan dengan benar. Kucermati ucapannya.  Meski sesekali harus ku interupsi karena kalimatnya tak ku pahami. Karena bagiku, menjadi seorang pende...