Skip to main content

I Named Him July

Aku ingat betul bagaimana suasana sore itu, langit yang cerah dengan semilir angin yang sejuk di kota Denpasar. Aku sudah pernah berkenalan dengan sosok laki-laki itu. Namun pada masa awal berkenalan, aku dan dirinya tidak bertegur sapa ataupun bercanda. Hanya sekedar mengenal satu sama lain tanpa ada ketertarikan sedikitpun. 

Entah apa yang hinggap dalam pikirnya ketika melihatku. Sore itu, ia bulatkan tekadnya untuk lebih mengenal aku. Tentu saja aku terkejut, kami hanya saling mengenal dan tidak ada tugas khusus yang mengharuskan kami untuk berkomunikasi lewat media sosial, apa ia sedang butuh bantuanku? batinku kala itu. 

Karena ia meminta dengan sopan, maka aku berikan kontak pribadiku tanpa ragu. Saat kami berbincang singkat sore itu, tidak ada perasaan aneh yang aku rasakan saat berbicara dengan dirinya. Ternyata ia pribadi yang humoris dan ramah. Satu hal yang terbesit dalam pikirku kala itu ialah aku sangat ingin berteman baik dengannya, aku ingin lebih mengenal pribadinya jika ia mengizinkan. 

Sore berganti malam.. tibalah waktunya ketika aku sudah sampai di rumah. Kami bertukar pesan malam itu dan beberapa malam setelahnya. Sesekali kami berkomunikasi lewat sambungan telepon juga. Ia memujiku, membuatku tertawa, dan membuat aku merasa bahagia jika berada dekat dengannya. 

Sesekali kami pergi menonton film di bioskop atau sekedar jalan-jalan menghabiskan malam bersama. Ia tak pernah mengizinkanku untuk merasa kurang dan lapar, selalu ada makanan setiap kami bertemu. Satu lelucon darinya pasti akan diikuti oleh tawa dariku. Sungguh, saat itu aku merasa tidak ingin kehilangannya. Saat itu aku merasakan bahwa apa yang ia berikan padaku benar-benar tulus. Tutur katanya, perasaannya, pemberiannya, semua terasa penuh kasih dan ketulusan. 

Aku cukup dekat dengan ibuku, sehingga aku ceritakan sosok laki-laki itu pada ibuku. Laki-laki itu dan ibuku belum pernah bertemu, namun laki-laki itu selalu menitipkan "salam buat mama" tiap kali mengantarkan aku pulang. Ibuku berkata bahwa laki-laki itu adalah sosok yang baik dan ibuku menyukainya karena ia amat baik padaku. 

Kami bahagia bersama, namun kami juga memutuskan untuk tidak melanjutkan kisah ini lebih lama lagi. Perbedaan yang menjadi penghalang untuk kami bersatu adalah bentuk peringatan besar agar kami tidak hanyut dalam kisah romantis ini terlalu jauh. Maka dalam keadaan yang berat itu, aku terpaksa harus melepaskannya. 

Setelah hari-hari yang sedih karena harus merelakannya, kami tetap berkomunikasi dan memutuskan untuk tetap berteman baik hingga saat ini. Ingin sekali ku ajak ia pergi ke kedai kopi dengan pemandangan yang indah itu, namun itu hanya akan jadi angan-angan ku yang akan aku biarkan tak terwujud. Ia harus lanjutkan perjalanannya meskipun tanpa aku, dan begitu pula dengan aku. Semoga ia temukan bahagia yang sesungguhnya tanpa harus bersusah payah. 

Kisah ini tentang kita: aku dan kamu yang tidak akan pernah mungkin jadi satu. 

Comments

Popular posts from this blog

Dikta & Hukum: Sebuah Kisah yang Menguras Emosi Pembaca

Hai! Dhifa disini. Kali ini aku mau bikin review buku, nih! Tapi tulisannya masih amatir banget, gapapa ya? Aku gemes banget pengin review buku ini, sekaligus memperkenalkan kepada khalayak umum mengenai sebuah buku yang luar biasa menguras perasaan aku. Tapi, kalau kamu mengharapkan aku mengulas buku yang berbau ilmu dan akademik, mending mundur dulu, deh. Karena buku ini adalah novel, yang mana kisahnya 100% fiksi. Diciptakan murni untuk menghibur dan memenuhi hasrat pembaca mengenai kisah romantis remaja. Judul bukunya "Dikta & Hukum", karya Kak Dhia'an Farah alias Kak Ara. Kalian bisa menemukan Kak Ara di Twitter dengan username @kejeffreyan. Yaudah, tanpa basa-basi lagi ayo kita bahas pelan-pelan novel "Dikta & Hukum". Kisah Dhifa Bertemu Novel "Dikta & Hukum" Bentar-bentar, sebelum bahas novel yang luar biasa ini, aku mau ceritain alasan kenapa aku beli novel ini. Semuanya berawal sekitar bulan Mei tahun 2021. Siang itu, ada nama ...

Kumpulan Tulisan Dhifa Lainnya

[Kabar]  Pers Akademika, 2020.  Antropologi Unud: Peduli Budaya Negeri di Tengah Pandemi. Dapat diakses di sini . [Kabar] Pers Akademika, 2021.  Harga Cabai Melejit, Pedagang Menjerit. Dapat diakses  di sini . [Sastra] Pers Akademika, 2021.  Nino, Jazz, dan Chicago. Dapat diakses  di sini . [Majalah] Antropologi Unud, 2021.  The People's Edisi 1. Dapat diakses  di sini .  With a honour , pada Majalah The People's Edisi 1 ini saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi. Anda dapat menemukan tulisan saya pada halaman 4.  [Buku] Pers Akademika, 2021.  Jejak Asa Bertaut Bencana. Tidak dapat diakses secara online karena buku ini dicetak.  With a honour , pada buku Jejak Asa Bertaut Bencana ini saya dipercaya sebagai kontributor dengan judul tulisan "Manusia, Alam Semesta, dan Nilai Kehidupan". Anda dapat menemukan tulisan saya pada halaman 168.

Pendengar yang Ingin Didengarkan

Ini perihal percaya yang kadang berubah jadi sirna, Berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi orang lain adalah salah satu hal favoritku. Mendengar mengajariku banyak hal. Aku bisa menambah pengetahuanku. Aku bisa mendapatkan kawan baru. Aku jadi tahu pola pikir orang lain. Aku jadi tahu kepribadian orang lain. Bahkan, aku jadi tahu sudut pandang orang lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehku. Mendengar membuka wawasan dan meningkatkan rasa empatiku. Aku bisa ikut gelisah ketika lawan bicaraku sedang gundah. Aku bisa ikut melayang ketika lawan bicaraku sedang senang. Aku bisa ikut getir ketika lawan bicaraku sedang khawatir. Bahkan, aku bisa ikut merasa sebal pada orang lain yang sudah membuat lawan bicaraku kesal. Ketika orang lain memintaku untuk mendengar, sebisa mungkin akan aku dengarkan dengan benar. Kucermati ucapannya.  Meski sesekali harus ku interupsi karena kalimatnya tak ku pahami. Karena bagiku, menjadi seorang pende...