Aku ingat betul bagaimana suasana sore itu, langit yang cerah dengan semilir angin yang sejuk di kota Denpasar. Aku sudah pernah berkenalan dengan sosok laki-laki itu. Namun pada masa awal berkenalan, aku dan dirinya tidak bertegur sapa ataupun bercanda. Hanya sekedar mengenal satu sama lain tanpa ada ketertarikan sedikitpun.
Entah apa yang hinggap dalam pikirnya ketika melihatku. Sore itu, ia bulatkan tekadnya untuk lebih mengenal aku. Tentu saja aku terkejut, kami hanya saling mengenal dan tidak ada tugas khusus yang mengharuskan kami untuk berkomunikasi lewat media sosial, apa ia sedang butuh bantuanku? batinku kala itu.
Karena ia meminta dengan sopan, maka aku berikan kontak pribadiku tanpa ragu. Saat kami berbincang singkat sore itu, tidak ada perasaan aneh yang aku rasakan saat berbicara dengan dirinya. Ternyata ia pribadi yang humoris dan ramah. Satu hal yang terbesit dalam pikirku kala itu ialah aku sangat ingin berteman baik dengannya, aku ingin lebih mengenal pribadinya jika ia mengizinkan.
Sore berganti malam.. tibalah waktunya ketika aku sudah sampai di rumah. Kami bertukar pesan malam itu dan beberapa malam setelahnya. Sesekali kami berkomunikasi lewat sambungan telepon juga. Ia memujiku, membuatku tertawa, dan membuat aku merasa bahagia jika berada dekat dengannya.
Sesekali kami pergi menonton film di bioskop atau sekedar jalan-jalan menghabiskan malam bersama. Ia tak pernah mengizinkanku untuk merasa kurang dan lapar, selalu ada makanan setiap kami bertemu. Satu lelucon darinya pasti akan diikuti oleh tawa dariku. Sungguh, saat itu aku merasa tidak ingin kehilangannya. Saat itu aku merasakan bahwa apa yang ia berikan padaku benar-benar tulus. Tutur katanya, perasaannya, pemberiannya, semua terasa penuh kasih dan ketulusan.
Aku cukup dekat dengan ibuku, sehingga aku ceritakan sosok laki-laki itu pada ibuku. Laki-laki itu dan ibuku belum pernah bertemu, namun laki-laki itu selalu menitipkan "salam buat mama" tiap kali mengantarkan aku pulang. Ibuku berkata bahwa laki-laki itu adalah sosok yang baik dan ibuku menyukainya karena ia amat baik padaku.
Kami bahagia bersama, namun kami juga memutuskan untuk tidak melanjutkan kisah ini lebih lama lagi. Perbedaan yang menjadi penghalang untuk kami bersatu adalah bentuk peringatan besar agar kami tidak hanyut dalam kisah romantis ini terlalu jauh. Maka dalam keadaan yang berat itu, aku terpaksa harus melepaskannya.
Setelah hari-hari yang sedih karena harus merelakannya, kami tetap berkomunikasi dan memutuskan untuk tetap berteman baik hingga saat ini. Ingin sekali ku ajak ia pergi ke kedai kopi dengan pemandangan yang indah itu, namun itu hanya akan jadi angan-angan ku yang akan aku biarkan tak terwujud. Ia harus lanjutkan perjalanannya meskipun tanpa aku, dan begitu pula dengan aku. Semoga ia temukan bahagia yang sesungguhnya tanpa harus bersusah payah.
Kisah ini tentang kita: aku dan kamu yang tidak akan pernah mungkin jadi satu.
Comments
Post a Comment